Wellcome To Firman Ramdhani Blog

Klik di Sini

Tampilkan postingan dengan label Industri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2009

Industri kimia nasional siap terapkan harmonisasi global

KUALA LUMPUR: Industri kimia di Indonesia menyatakan kesiapannya untuk menerapkan harmonisasi global atas klasifikasi risiko bahaya dan sistem pelabelan (globally harmonized system/GHS) pada akhir tahun depan.

Jika program tersebut berhasil dilaksanakan, industri kimia nasional dapat mengikuti ketentuan internasional mengenai GHS yang akan berlaku mulai awal 2009.

Ketua Komite Nasional Responsible Care Indonesia (KN-RCI) Frank Moniaga mengatakan berbagai persiapan dan pelatihan telah dilakukan para pelaku industri kimia di Indonesia untuk memenuhi ketentuan GHS.

“Indonesia telah melakukan beragam training [pelatihan], bekerja sama dengan Jetro. Setiap orang harus dilatih. Kami harapkan semuanya akan siap pada akhir tahun depan,” ujarnya di sela-sela Konferensi Responsible Care Asia Pasifik (APRCC) yang digelar sejak Senin dan berakhir hari ini.

GHS adalah suatu pendekatan umum dan logis untuk mendefinisikan dan mengklasifikasikan bahaya bahan kimia dan mengomunikasikan informasi tersebut melalui label dan lembar data keselamatan (material safety data sheet).

GHS yang dicanangkan pada laporan konferensi PBB mengenai lingkungan dan pembangunan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) pada Juni 1992 di Rio de Janeiro, Brasil, juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan publik dan perlindungan lingkungan, serta mengurangi pembatasan perdagangan.

Melalui implementasi GHS, seluruh negara akan memiliki label atau tanda berbahaya yang sama untuk produk kimia, serta pengertian sama terhadap label tersebut.

“Perbedaan intepretasi dari label atau tanda yang sama, menimbulkan kesalahpahaman antarnegara,” ujar Frank.

Jepang & Malaysia

General Manager Japan Chemical Industry Association (JCIA) Konoshin Fukuma mengatakan perusahaan-perusahaan kimia di Jepang sudah mulai menerapkan ketentuan-ketentuan dalam GHS.

Hiroshi Jonai, profesor dari Nohon University dan juga salah satu anggota Inter-ministerial Committee untuk masalah penerapan GHS di Jepang, menyebutkan pemerintah Jepang telah memulai serangkaian proyek nasional untuk implementasi GHS.

Garis besar proyek pemerintah Jepang dalam hal implementasi GHS yaitu pembentukan Inter-ministerial Committee, dokumen GHS dalam translasi bahasa Jepang, aktivitas setiap kementerian dalam implementasi GHS, revisi peratur-an keamanan dan kesehatan industrial, serta klasifikasi 1.400 jenis bahan kimia seperti yang diatur dalam kriteria GHS.

dia ambil dari..

Oleh Yeni H. Simanjuntak
Bisnis Indonesia

Mengembangkan Produk Baru


Jaman modern seperti sekarang ini membuat pasar barang dan jasa dibanjiri oleh banyak produk baik barang maupun jasa. Untuk bisa tampil beda produsen dituntut untuk dapat kreatif agar mampu menciptakan sesuatu yang baru untuk ditawarkan kepada para konsumen. Produk baru yang diterima pasar alias laku dijual dapat memberi nilai plus pada perusahaan atau bahkan bisa memimpin pasar pada segmen tertentu.

Berikut di bawah ini adalah tahapan dalam pengembangan atau penciptaan produk baru :

1. Pencarian Ide Produk

Ide bisa dicari namun terkadang datang dengan sendirinya tanpa diharapkan. Banyak perusahaan yang memiliki bagian atau divisi riset maupun menggunakan jasa pihak luar untuk mencarikan ide segar dan brilian bagi perusahaan. Ide yang dihasilkan haruslah sesuai dengan apa yang telah menjadi tujuan perusahaan.

Ide pun bisa datang dari konsumen yang biasa mengkonsumsi produk perusahaan maupun produk produsen lain yang serupa. Ide pun bisa dicuri dari produsen lain yang berkompetisi dengan kita. Ide memang mahal, kerena tidak sedikit perusahaan yang berani membayat mahal sebuah inovasi baru yang mampu menciptakan keuntungan besar bagi perusahaan.

2. Menyaring Ide Produk

Apabila ide yang didapat banyak jumlahnya maka sebaiknya dilakukan pemilihan ide yang sekiranya patut untuk maju ke langkah selanjutnya. Sesuaikanlah dengan kondisi dan tujuan perusahaan. Ide yang sulit untuk diwujudkan karena dirasa tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan sebaiknya tidak diteruskan demi kebaikan perusahaan.

3. Analisis Bisnis

Perusahaan melakukan berbagai perkiraan estimasi pada produk tersebut mulai dari berapa kira-kira biaya investasi yang dibutuhkan, seberapa besar potensi pasarnya, seberapa besar tingkat penjualannya, dan seberapa banyak laba atau keuntungan yang mungkin diraih perusahaan. Semua itu sebaiknya dilakukan secara ilmiah dan tidak hanya dengan kira-kira saja.

4. Pengembangan Produk

Dari ide yang layak untuk maju ke tahap selanjutnya dibuatkan prototip atau model produk untuk dilakukan uji kelayakan bisnis. Produk diuji coba secara internal baik dilakukan sendiri maupun dilakukan oleh pihak luar perusahaan yang kompeten di bidangnya. Dari contoh produk yang dibuat, jika ada yang dirasa buruk produknya atau akan mengalami kendala produksi di masa depan sebaiknya tidak dilanjutkan atau dilakukan perbaikan dengan kembali ke tahap-tahap sebelumnya untuk diperbaiki.

5. Uji Coba Pemasaran

Produk yang telah lulus uji model prototipe, selanjutnya dilakukan pengujian pemasaran dengan memilih beberapa sampel pasar yang kurang lebih mewakili kondisi segmen pasar yang akan dituju oleh produk perusahaan. Lihat bagaimana reaksi pasar terhadap produk baru tersebut.

Jika hasilnya ternyata positif maka produk tersebut layak untuk lanjutkan ke tahap berikutnya. Sebaliknya apabila ternyata negatif atau mendapat respon yang buruk dari target pasat terbatas maka sebaiknya dilakukan evaluasi kembali atau menggugurkan produk. Baik hasil positif dan negatif sebaiknya dipelajari kelebihan dan kekurangan agar hasil di pasar yang sesungguhnya dapat dimaksimalkan.

6. Komersialisasi Produk Baru

Tahap yang terakhir dari rangkaian pengembangan produk baru adalah menawarkannya kepada seluruh pasar yang dituju. Produk baru tersebut sebaiknya terus dilakukan monitoring dan dilakukan berbagai evaluasi dari yang ada di lapangan dan perbaikan baik pada produk, target konsumen, harga, promosi, dan lain sebagainya sehingga mampu memaksimalisasi keuntungan yang diperoleh.

Terima Kasih Telah Mengunjungi Firman Ramdhani Blog

Klik di Sini

KoSoNg ToeJoeH © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute